DISTRIBUSI EPIDEMIOLOGI PENYAKIT DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUUWATU, KOTA KENDARI

1. Wilayah kerja Puskesmas Puuwatu
Wilayah kerja puskesmas puuwatu memiliki luas sebesar 2156 km2, yang meliputi enam kelurahan yaitu:
a) Kelurahan Puuwatu
b) Kelurahan Watulondo
c) Kelurahan Tobuuha
d) Kelurahan Punggolaka
e) Kelurahan Lalodati
f) Kelurahan Abeli Dalam
Secara administratif, letak geografis wilayah kerja Puskesmas Puuwatu berbatasan dengan:
a) Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Wawombalata, Kecamatan Mandonga.
b) Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga.
c) Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Mandonga, Kecamatan Mandonga.
d) Sebelah barat berbatasan dengan Desa Abeli Sawa, Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe.

Jumlah penduduk di wilayah kerja puskesmas puuwatu adalah sebanyak 23.543 jiwa, dengan jumlah kepala keluarga (KK), sebanyak 5160 KK, jumlah KK miskin sebanyak 2071 KK dan jumlah masyarakat miskin sebanyak 8830 jiwa, dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 1. Distribusi jumlah penduduk di wilayah kerja puskesmas puuwatu tahun 2008.
No. Kelurahan Jml penduduk Jml pddk perempuan Jml pddk laki-laki Jml KK Jml KK miskin Jml Jiwa miskin
1 Puuwatu 5057 2516 2539 1133 475 2125
2 Watulondo 5967 2890 3077 1297 360 1586
3 Tobuuha 5216 2598 2618 1012 299 1076
4 Punggolaka 4781 2385 2396 1076 497 2188
5 Abeli dalam 694 317 377 209 116 499
6 Lalodati 1820 910 918 433 324 1346
JUMLAH 23543 11616 11925 5160 2071 8820
Sumber: Data Sekunder 2008

2. Distribusi epidemiologi penyakit diare
Penyakit diare hingga kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu. Selama tiga tahun terakhir, penyakit diare menduduki peringkat pertama sebagai penyakit dengan angka kejadian terbanyak. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah distribusi epidemiologi penyakit diare di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu:

a. Orang (person)
Perbedaan sifat keadaan karateristik personal/individu secara tidak langsung dapat memberikan perbedaan pada sifat/keadaan keterpaparan faktor resiko penyakit Diare maupun derajat resiko penyakit Diare serta reaksi individu terhadap setiap keadaan keterpaparan, sangat berbeda dan dipengaruhi oleh berbagai sifat karateristik tertentu. Sifat karateristik itu antara lain: umur, jenis kelamin, kelas sosial, jenis pekerjaan, penghasilan, golongan etnik, status perkawinan, besarnya keluarga, struktur keluarga, dan paritas.
Berdasarkan data distribusi penyakit yang diperoleh dari Unit Surveilans Penyakit Puskesmas Puuwatu, sifat kareteristik penderita Diare menurut varibel orang hanya berdasarkan umur saja. Data yang diambil merupakan data kejadian diare yang terjadi pada tiga tahun terakhir, yaitu data tahun 2007, data tahun 2008, dan data bulan Januari-Oktober tahun 2009. Hal ini dimaksudkan untuk melihat distribusi epidemiologi penykit diare berdasarkan trend tiga tahunan.
Berikut adalah Tabel Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan Kelompok Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Tahun 2007:


TABEL 1.1 DISTIBUSI PENYAKIT DIARE BERDASARKAN KELOMPOK UMUR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUUWATU TAHUN 2007

NO GOL. UMUR JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES JUMLAH
1 < 1 TAHUN 38 23 19 0 23 6 6 18 28 12 6 5 184
2 1-4 TAHUN 53 45 21 15 19 12 9 21 36 8 14 8 261
3 5-9 TAHUN 14 23 15 23 16 14 13 16 32 18 18 9 211
4 10-14 TAHUN 2 4 7 22 6 4 23 32 34 7 33 16 190
5 15-19 TAHUN 2 4 7 4 5 8 26 24 49 9 36 17 191
6 20-44 TAHUN 13 24 9 17 28 16 46 29 48 11 56 13 310
7 45-54 TAHUN 11 3 6 6 18 9 11 8 16 5 21 22 136
8 55-59 TAHUN 0 3 1 4 2 7 4 7 10 2 4 17 61
9 60-69 TAHUN 4 4 2 3 2 8 3 4 3 3 3 15 54
10 70+ 2 4 3 0 1 0 6 5 3 0 6 0 30
JUMLAH 139 137 90 94 120 84 147 164 259 75 197 122 1628
SUMBER: DATA SEKUNDER 2007


Untuk lebih jelasnya, berikut adalah grafik distribusi penyakit diare menurut kelompok umur di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu tahun 2007:

Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui jika kelompok umur dengan kejadian diare yang tertinggi adalah kelompok umur 20-44 tahun yang merupakan usia produktif, kemudian disusul kelompok umur 1-4 tahun yang merupakan usia balita.
Berikut adalah Tabel Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan Kelompok Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Tahun 2008:

TABEL 1.2 DISTIBUSI PENYAKIT DIARE BERDASARKAN KELOMPOK UMUR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUUWATU TAHUN 2008

NO. GOL. UMUR JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES JUM
1 < 1 TAHUN 0 26 13 18 20 0 20 35 23 15 21 49 240
2 1-4 TAHUN 6 36 27 44 43 24 54 54 58 40 41 61 488
3 5-9 TAHUN 8 16 5 19 12 49 15 7 11 120 6 10 278
4 10-14 TAHUN 7 5 6 8 11 5 4 8 2 4 4 12 76
5 15-19 TAHUN 18 4 3 0 7 2 3 5 4 2 7 5 60
6 20-44 TAHUN 12 12 19 27 27 1 24 15 19 19 24 64 263
7 45-54 TAHUN 16 6 3 5 10 3 16 6 8 7 4 11 95
8 55-59 TAHUN 14 2 1 0 3 1 1 1 2 5 2 5 37
9 60-69 TAHUN 7 1 1 4 3 0 1 5 2 3 2 6 35
10 70+ 0 0 2 1 0 0 2 2 0 0 1 1 9
JUMLAH 88 108 80 126 136 85 140 138 129 215 112 224 1581
SUMBER: DATA SEKUNDER 2008


Untuk lebih jelasnya, berikut adalah grafik distribusi penyakit diare menurut kelompok umur di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu tahun 2008:

Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui jika kelompok umur dengan kejadian diare yang tertinggi adalah kelompok umur 1-4 tahun yang merupakan usia balita, kemudian disusul kelompok umur 20-44 tahun yang merupakan usia produktif.
Berikut adalah Tabel Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan Kelompok Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Tahun 2009:

TABEL 1.3 DISTRIBUSI PENYAKIT DIARE BERDASARKAN KELOMPOK UMUR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUUWATU TAHUN 2009

NO GOLONGAN UMUR JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES JUMLAH
1 < 1 TAHUN 49 32 14 15 17 17 0 25 23 27 0 0 219
2 1-4 TAHUN 71 56 43 46 31 39 0 73 70 48 0 0 477
3 5-9 TAHUN 9 16 12 17 17 10 0 20 23 15 0 0 139
4 10-14 TAHUN 8 3 7 17 3 9 0 10 11 10 0 0 78
5 15-19 TAHUN 3 2 5 6 4 1 0 6 5 6 0 0 38
6 20-44 TAHUN 38 20 25 25 22 35 0 30 27 21 0 0 243
7 45-54 TAHUN 6 13 3 4 3 7 0 5 8 15 0 0 64
8 55-59 TAHUN 1 5 4 4 1 0 0 2 2 3 0 0 22
9 60-69 TAHUN 2 7 8 8 1 2 0 1 1 2 0 0 32
10 70+ 0 0 1 1 1 1 0 2 2 1 0 0 9
JUMLAH 187 154 122 143 100 121 0* 174 172 148 0* 0* 1321
SUMBER: DATA SEKUNDER 2009
Ket:
* (data tidak tersedia)


Untuk lebih jelasnya, berikut adalah grafik distribusi penyakit diare menurut kelompok umur di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu tahun 2008:

Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui jika kelompok umur dengan kejadian diare yang tertinggi adalah kelompok umur 1-4 tahun yang merupakan usia balita, kemudian disusul kelompok umur 20-44 tahun yang merupakan usia produktif.
Untuk melihat perkembangan epidemiologi suatu penyakit tertentu dapat dilihat sebuah trend. Dalam makalah ini perkembangan penyakit dianalisis berdasarkan trend tiga tahunan.
Berikut adalah Grafik Trend Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan Kelompok Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Tahun 2007-2009:

Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui jika trend tiga tahunan menunjukkan bentuk yang sama. Jumlah penderita terbesar adalah penderita pada kelompok umur produktif (20-44 tahun) pada tahun 2007, dan penderita pada kelompok umur balita (1-4 tahun) pada tahun 2008 dan 2009. Jumlah penderita terbesar kedua adalah kelompok umur balita (1-4 tahun) pada tahun 2007 dan kelompok umur produktif (20-44 tahun) pada tahun 2008 dan 2009.
Secara umum, jumlah penderita diare pada kedua kelompok ini, sangat tinggi dibanding dengan kelompok umur lain, sehingga grafik membentuk sebuah gunung dengan dua puncak.
Ada beberapa hal yang menyebabkan angka kejadian penyakit diare pada kedua kelompok ini sangat tinggi. Pada kelompok balita, tingginya angka kejadian penyakit diare disebabkan oleh kondisi fisik balita yang belum optimal perkembangan sistem pencernaan dan kekebalan tubuhnya, sehingga menyebabkan mereka rawan terserang virus atau bakteri termasuk virus dan bakteri yang dapat menyebabkan diare.
Selain itu, balita belum mengerti bagaimana cara memproteksi diri dari penyakit, misalnya dengan hygiene perseorangan, seperti mencuci tangan sebelum makan, balita memiliki kebiasaan bermain di berbagai tempat termasuk di tempat-tempat kotor, membeli jajanan tanpa memeperhatikan kebersihan dan efeknya bagi tubuh, atau memiliki kebiasaan memasukkan benda-benda atau jari kedalam mulut. Sehingga dalam keadaan seperti ini perhatian orang tua sangat diperlukan untuk mengawasi anak mereka, namun dalam kondisi sosial tertentu, hal ini sulit dilakukan, misalnya karena orang tua yang bekerja, memiliki banyak anak lain, pengetahuan ibu tentang penyakit diare yang kurang, atau pada keadaan ekonomi yang buruk sehingga pemenuhan gizi anak tidak diperhatikan dan alokasi dana keluarga untuk kesehatan tidak ada.
Tingginya angka kejadian diare pada orang dewasa disebabkan oleh beberapa hal, misalnya bakteri yang mengkontaminasi makanan karena sanitasi dan hygiene perseorangan yang kurang baik, kebiasaan mengkonsumsi makanan yang pedas dan bersantan yang memang menjadi salah satu menu harian masyarakat Sulawesi tenggara umumnya, dan juga stress biasanya karena pada usia produktif seseorang selalu diperhadapkan pada kondisi yang mengharuskan mereka produktif secara ekonomi, sehingga beban yang ditanggung kelompok usia ini selalu lebih berat.
Disamping itu tingginya angka kejadian diare pada kelompok umur 20-44 tahun dapat disebabkan karena data yang bias, maksudnya interval kelompok umur terpanjang adalah interval kelompok umur 20-44 tahun, kelompok umur ini merupakan kelompok umur dengan presentase terbesar dari seluruh penderita, sedangkan jumlah penduduk kelompok ini tidak diketahui sehingga kepadatan kasusnya tidak dapat dihitung atau diperkirakan.

b. Tempat (place)
Karateristik tempat sebagai wilayah administratif sering digunakan untuk melakukan perencanaan kebijakan kesehatan, sedangkan karateristik tempat yang menunjukkan batas-batas alam sering digunakan untuk menjelaskan etiologi penyakit.
Hal-hal yang memberikan kekhususan pola penyakit disuatu daerah dengan batas-batas alam adalah: keadaan lingkungan yang khusus seperti temperatur, kelembaban, curah hujan, ketinggian diatas permukaan laut, keadaan tanah, sumber air, derajat isolasi terhadap pengaruh luar yang tergambar dalam tingkat kemajuan ekonomi, pendidikan, industri, pelayanan kesehatan, bertahannya tradisi-tradisi yang merupakan hambatan dalam pembangunan, faktor sosial budaya yang tidak menguntungkan kesehatan atau pengembangan kesehatan, sifat-sifat lingkungan biologis (ada tidaknya vektor lingkungan tertentu, reservoir penyakit menular tertentu, dan susunan genetika).
Berdasarkan data distribusi penyakit yang diperoleh dari Unit Surveilans Penyakit Puskesmas Puuwatu, sifat kareteristik penderita Diare menurut varibel tempat dikelompokkan berdasarkan kelurahan tempat tinggal penderita. Berdasarkan data, cukup banyak penderita diare yang berasal dari luar wilayah kerja puskesmas, namun yang akan dibahas berikutnya hanyalah penderita yang berasal dari wilayah kerja puskesmas saja. Data yang diambil merupakan data kejadian diare yang terjadi pada tiga tahun terakhir, yaitu data bulan Juli-Desember tahun 2007, data tahun 2008, dan data bulan Januari-Oktober tahun 2009. Hal ini dimaksudkan untuk melihat distribusi epidemiologi penyakit diare berdasarkan trend tiga tahunan.

Berikut ini adalah Tabel Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan Kelurahan di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Tahun 2007:

TABEL 2.1 DISTRIBUSI PENYAKIT DIARE BERDASARKAN KELURAHAN
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUUWATU TAHUN 2007

NO NAMA DESA/KELURAHAN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES JUMLAH
1 PUUWATU 31 37 53 19 41 37 218
2 WATULONDO 12 16 26 11 32 16 113
3 TOBUUHA 19 21 41 21 29 20 151
4 PUNGGOLAKA 10 11 41 12 20 19 113
5 LALODATI 2 3 7 1 2 2 17
6 ABELI DALAM 1 2 6 0 1 2 12
7 LUAR WILAYAH 0 73 85 11 72 25 266
JUMLAH 0* 0* 0* 0* 0* 0* 75 163 259 75 197 121 890
SUMBER: DATA SEKUNDER 2007
Ket:
* (data tidak tersedia)

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah grafik distribusi penyakit diare menurut kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu tahun 2007:

Berdasarkan grafik diatas diketahui jika distribusi penderita diare terbanyak berada pada Kelurahan Puuwatu, sedangkan distribusi penderita diare terendah berada pada Kelurahan Abeli Dalam.
Berikut ini adalah Tabel Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan Kelurahan di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Tahun 2008:

TABEL 2.2 DISTRIBUSI PENYAKIT DIARE BERDASARKAN KELURAHAN
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUUWATU TAHUN 2008

NO NAMA DESA/KELURAHAN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES JUMLAH
1 PUUWATU 26 16 32 20 37 44 26 30 37 21 41 330
2 WATULONDO 29 16 19 43 19 20 9 13 29 23 66 286
3 TOBUUHA 23 18 15 12 11 12 16 19 23 17 34 200
4 PUNGGOLAKA 20 12 16 11 14 23 16 9 35 9 18 183
5 LALODATI 0 1 3 7 2 1 0 1 2 0 0 17
6 ABELI DALAM 0 1 5 27 1 0 0 1 3 0 0 38
7 LUAR WILAYAH 20 16 36 10 1 41 70 46 90 42 44 416
JUMLAH 0* 118 80 126 130 85 141 137 119 219 112 203 1470
SUMBER: DATA SEKUNDER 2008
Ket:
* (data tidak tersedia)

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah grafik distribusi penyakit diare menurut kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu tahun 2008:

Berdasarkan grafik diatas diketahui jika distribusi penderita diare terbanyak berada pada Kelurahan Puuwatu, sedangkan distribusi penderita diare terendah berada pada Kelurahan Lalodati.
Berikut ini adalah Tabel Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan Kelurahan di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Tahun 2009:

TABEL 2.3 DISTRIBUSI PENYAKIT DIARE BERDASARKAN KELURAHAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUUWATU TAHUN 2009

NO NAMA DESA/KELURAHAN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES JUMLAH
1 PUUWATU 30 28 16 13 11 26 32 38 36 30 260
2 WATULONDO 36 32 18 20 15 23 15 15 16 10 200
3 TOBUUHA 18 22 20 25 17 19 12 24 25 20 202
4 PUNGGOLAKA 32 24 18 23 20 20 11 26 24 21 219
5 LALODATI 0 2 0 2 6 2 1 3 4 1 21
6 ABELI DALAM 0 2 2 4 8 3 4 2 3 2 30
7 LUAR WILAYAH 69 52 28 36 29 28 45 66 68 68 489
JUMLAH 185 162 102 123 106 121 120 174 176 152 0* 0* 1421
SUMBER: DATA SEKUNDER 2009


Untuk lebih jelasnya, berikut adalah grafik distribusi penyakit diare menurut kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu tahun 2009:

Berdasarkan grafik diatas diketahui jika distribusi penderita diare terbanyak berada pada Kelurahan Puuwatu, sedangkan distribusi penderita diare terendah berada pada Kelurahan Lalodati.
Untuk melihat perkembangan epidemiologi suatu penyakit tertentu dapat dilihat sebuah trend. Dalam makalah ini perkembangan penyakit dianalisis berdasarkan trend tiga tahunan.
Berikut adalah Grafik Trend Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan Kelompok Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Tahun 2007-2009:

Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui jika trend tiga tahunan menunjukkan bentuk yang sama. Kelurahan dengan jumlah penderita Diare terbesar adalah Kelurahan Puuwatu pada tahun 2007, 2008 dan 2009. Kelurahan dengan jumlah penderita terendah adalah Kelurahan Abeli Dalam pada tahun 2007 dan Kelurahan Lalodati pada tahun 2008 dan 2009.
Berdasarkan data yang diperoleh, distribusi tempat dibagi berdasarkan wilayah administratif kelurahan, dimana di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu sendiri terdiri dari enam kelurahan.
Ada kondisi lingkungan yang menyebabkan tingginya angka kejadian diare, antara lain:

1) Kondisi Perumahan
Kondisi perumahan sangat mempengaruhi infeksi penyakit menular, termasuk penyakit diare. Misalnya, rumah dengan lantai yang terbuat dari tanah dengan kondisi selalu berdebu dapat menjadi salah satu tempat bersarangnya mikroorganisme, rumah dengan kondisi dapur yang kotor dapat menjadi salah satu faktor pencetus diare. Kuman penyebab diare sendiri dapat bertahan hidup di tanah hingga lima hari.

2) Sumber Air Minum
Sumber air minum sangat berpengaruh terhadap proses penularan diare, karena air merupakan water bourne desease, atau menjadi salah satu sumber penularan bibit penyakit. KLB diare sering terjadi akibat konsumsi air yang tercemar, misalnya dengan mengonsumsi air dari sungai yang tercemar bakteri penyebab diare atau mengkonsumsi air dari sumur gali yang terlalu dekat dengan septik tank sehingga tercemar Escherichia coli.

3) Jamban
Jamban keluarga yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan menyebabkan kontaminasi pada air minum , baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi berbagai penyakit saluran pencernaan seperti diare, kolera, disentri. Pembuangan tinja yang baik akan memperbaiki kondisi kondisi lingkunagn dan mencegah terjadinya penyakit.

4) Pengelolaan Sampah
Sampah dapat menjadi salah satu sumber penyakit termasuk penyakit diare, dapat pula dipengaruhi oleh adanya vektor. Bakteri yang terdapat dalam sampah, terbawa oleh vektor yang kemudian hinggap dalam makanan dan menyebabkan infeksi penyakit. Karena itu pengelolaan sampah yang baik sangat diperlukan, misalnya sampah tidak berserakan dan harus menggunakan tempat sampah dengan tutup.

5) Limbah
Limbah rumah tangga dapat menjadi salah satu sumber penularan penyakit Diare, karena kemungkinan besar telah tercemar bakteri pathogen. Untuk itu, pengelolaan saluran pembuangan air limbah yang baik perlu diterapkan. Untuk mencegah bersarangnya vektor di saluran pembuangan air limbah. Saluran pembuangan air limbah yang tidak tertata dengan baik, juga dikhawatirkan dapat mencemari sumber air baik berupa air tanah maupun sungai, limbah dapat langsung meresap ke tanah, terbawa bersama air hujan, atau menyerap ke dalam tanah setelah biodegradasi.

Berdasarkan data yang diperoleh, Kelurahan Puuwatu merupakan kelurahan dengan angka kejadian diare tertinggi, hal ini dapat disebabkan hal-hal sebagai berikut:
a) Tingkat kesadaran masarakat yang tinggi untuk berobat.
b) Keterjangkauan masyarakat terhadap akses pelayanan kesehatan yang cukup tinggi.
c) Jumlah penduduk merupakan jumlah penduduk terbanyak di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu, sedangkan kepadatan kasus belum terhitung. Selain itu karena kepadatan penduduknya tinggi penyakit infeksi menjadi lebih cepat meular dari orang ke orang.
d) Terdapat tempat pembuangan sampah akhir di wilayah Kelurahan Puuwatu.

Berdasarkan data yang diperoleh, kelurahan Lalodati dan Kelurahan Abeli Dalam, merupakan kelurahan dengan angka kejadian diare terendah, hal ini disebabkan oleh hal-hal berikut:
a) Tingkat kesadaran masarakat yang kurang untuk berobat.
b) Keterjangkauan masyarakat terhadap akses pelayanan kesehatan yang kurang, karena letak puskesmas dengan wilayah tempat tinggal mereka.
c) Jumlah penduduk merupakan jumlah penduduk paling sedikit di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu, kepadatan kasus belum terhitung.

c. Waktu (time)
Distribusi epidemiologi berasarkan waktu digunakan untuk menentukan masa inkubasi penyakit, penyebaran penyakit berdasarkan musim, dan seringkali digunakan untuk menentukan apakah suatu wilayah merupakan endemis dari suatu penyakit, dan juga digunakan untuk menghitung standar deviasi untuk menentukan kriteria wabah atau KLB pada suatu wilayah, serta untuk membantu perencanaan program-program kesehatan untuk mencegah penyakit, khususnya yang merupakan penyakit musiman.
Berdasarkan data distribusi penyakit yang diperoleh dari Unit Surveilans Penyakit Puskesmas Puuwatu, sifat karateristik penderita Diare menurut varibel waktu dikelompokkan berdasarkan bulan.
Data yang diambil merupakan data kejadian diare yang terjadi pada tiga tahun terakhir, yaitu data tahun 2007, data tahun 2008, dan data bulan Januari-Oktober tahun 2009. Hal ini dimaksudkan untuk melihat distribusi epidemiologi penyakit diare berdasarkan trend tiga tahunan.
Berikut ini adalah Tabel Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Tahun 2007:

TABEL 3.1 DISTRIBUSI PENYAKIT DIARE BERDASARKAN WAKTU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUUWATU TAHUN 2007

NOMOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
NAMA BULAN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES JUM
JUMLAH PENDERITA 139 137 90 94 120 84 147 164 259 75 197 122 1628
SUMBER: DATA SEKUNDER 2007

TABEL 3.2 DISTRIBUSI PENYAKIT DIARE BERDASARKAN WAKTU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUUWATU TAHUN 2008

NOMOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
NAMA BULAN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES JUM
JUMLAH PENDERITA 88 108 80 126 136 85 140 138 129 215 112 224 1581
SUMBER: DATA SEKUNDER 2008

TABEL 3.3 DISTRIBUSI PENYAKIT DIARE BERDASARKAN WAKTU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUUWATU TAHUN 2009

NOMOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
NAMA BULAN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES JUM
JUMLAH PENDERITA 187 154 122 143 100 121 120 174 172 148 1441
SUMBER: DATA SEKUNDER 2009


Untuk lebih jelasnya, grafik trend tiga tahunan penyakit diare berdasarkan waktu di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu dapat dilihat pada grafik berikut:

Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui jika penyakit Diare di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu, sifatnya endemik, tidak fluktuatif dan cenderung menetap, peningkatan tertinggi terjadi pada Bulan September tahun 2007 dan Oktober 2008. Setiap peningkatan kejadian yang cukup tinggi, selalu diikuti dengan penurunan kejadian yang cukup drastis, hal ini disebabkan kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit diare meningkat setelah angka kejadian yang cukup tinggi.
Kejadian diare yang tidak fluktuatif tidak dipengruhi oleh musim, permasalahan penyebab utama kemungkinan adalah sanitasi makanan dan higiene perorangan yang buruk, di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu pernah terjadi kasus KLB keracunan makanan. Selain itu, antara musim hujan dan musim kemarau di Kota Kendari tidak menunjukkan batas waktu yang jelas, cenderung bergeser tiap tahunnya, disebabkan perubahan iklim secara global dan kelembapan udara di kota kendari cukup tinggi, sehingga tidak ada pengaruh musim terhadap penyakit diare.

C. Faktor Resiko Penyakit Diare

Penyebab tingginya kejadian Diare di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu, kemungkinan besar disebabkan oleh adanya berbagai macam faktor resiko penyakit diare di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu. Faktor-faktor resiko tersebut antara lain:

1. Kondisi sanitasi lingkungan yang kurang baik.
Yang termasuk ke dalam sanitasi lingkungan yaitu sumber air minum, tempat pembuangan kotoran (jamban), pembuangan sampah, perumahan dan pembuangan air limbah (Notoatmodjo, 2003).

2. Hygiene perseorangan yang kurang baik.
Kebiasaan-kebiasaan buruk seperti tidak mencuci tangan sebelum makan, kebiasaan mengigiti kuku, jari, pulpen atau benda lain, termasuk ke dalam hygiene perseorangan yang kurang baik. Mandi dua kali sehari, mencuci dan menyeterika pakaian juga termasuk hygiene perseorangan yang dapat mencegah penyebaran penyakit infeksi.

3. Sanitasi makanan yang kurang baik.
Sanitasi makanan yang kurang baik, dapat menyebabkan diare, proses pengolahan, penyimpanan, dan konsumsi makanan yang kurang baik dapat memudahkan mikroba tumbuh dan berkembang di dalam makanan. Proses penyimpanan yang kurang baik dapat memudahkan mikroba untuk mengkontaminansi makanan.

4. Masalah nutrisi dan imunitas tubuh.
Nutrisi yang kurang baik merupakan faktor resiko terjadinya Diare, karena sangat menentukan imunitas tubuh terhadap penyakit infeksi. Nutrisi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan di dalam tubuh. Beberapa penelitian menyebutkan nutrisi bisa mempengaruhi kondisi kekebalan di dalam tubuh. Nutrisi merangsang sistem kekebalan untuk bekerja dan meningkatkan fungsinya secara langsung. Nutrisi yang cukup mencegah malnutrisi dan wasting, mengembalikan dan mempertahankan berat badan ideal, meningkatkan kemampuan tubuh melawan berbagai infeksi ,sepsis, meningkatkan efek obat-obatan; memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup.

5. Pemberian ASI eksklusif yang rendah
Pemberian ASI eksklusif yang rendah merupakan salah satu faktor resiko Diare bagi bayi, ASI adalah makanan terbaik bagi bayi, karena mengandung colostrum, ASI selalu tersedia kapan saja, selalu aman untuk dkonsumsi, dan tidak mengandung efek samping. Bayi yang diberikan ASI eksklusif memiliki daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi, termasuk diare, lebih baik dibandingkan dengan bayi yang hanya diberi susu formula.

6. Pemberian makanan tambahan terlalu dini
Pemberian makanan tambahan terlalu dini merupakan salah satu faktor resiko Diare pada bayi dan balita. Pemberian makan terlalu dini dapat mempengaruhi kekebalan tubuh anak terhadap penyakit infeksi, termasuk Diare, karena anak pada umur tertentu (enam bulan kebawah) masih perlu diberi ASI eksklusif. Jika diberikan makanan terlalu dini akan mempengaruhi kekebalan tubuhnya. Selain itu, pencernaan anak belum berkembang optimal jika dipaksakan mencerna makanan, dapat mempengaruhi sistem pencernaannya.

7. Stress yang Berlebihan
Stress merupakan faktor resiko Diare pada orang dewasa, tekanan psikis terutama yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu fungsi organ-organ tubuh, sistem pencernaan adalah sistem organ yang paling mudah mendapat pengaruh. Rangsangan stress dapat memberi pengaruh pada peningkatan produksi asam lambung, mempercepat detak jantung,dan peningkatan gerak usus secara berlebihan sehingga mengurangi laju absorbsi pada usus, inilah yang dapat menyebabkan diare. Gejala awal dapat berupa rasa mual, muntah, pusing, perut melilit kemudian mulai terjadi peningkatan frekuensi buang air besar.

Beberapa faktor resiko diatas merupakan faktor resiko kejadian diare, yang kemungkinan merupakan penyebab tingginya angka kejadian diare di wilayah kerja puskesmas. Mengenai relevansinya dengan keadaan di lapangan, perlu penelitian lebih lanjut.

D. Upaya-Upaya Pencegahan Penyakit Diare
Dalam pencegahan penyakit diare dapat dilihat dalam lima tingkat pencegahan penyakit (five level prevention), sebagai berikut:

1. Promosi Kesehatan (Health Promotion)
Promosi Kesehatan (Health Promotion) adalah upaya meningkatkan peran kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal, mengurangi penyebabnya serta derajat resiko serta meningkatkan secara optimal lingkungan yang sehat. Sasaran dari pencegahan ini yaitu orang sehat dengan usaha meningkatkan derajat kesehatan.
Promosi Kesehatan (Health Promotion) dalam mencegah terjadinya penyakit diare dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya:
a. Memberikan penyuluhan terhadap masyarakat tentang pentingnya menerapkan pola hidup sehat dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sejak dini, untuk mencegah terjadinya penyakit diare.
b. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara penularan dan cara-cara pemberantasan serta manfaat menegakkan diagnosis dini dari penyakit diare.
c. Melakukan perbaikan lingkungan sosial seperti mengurangi dan menghilangkan kondisi sosial yang mempertinggi risiko terjadinya diare, seperti perbaikan sanitasi lingkungan dan makanan.

2. Perlindungan khusus (spesific protection)
Sasaran pada perlindungan khusus (spesific protection) yang utama adalah ditujukan kepada penjamu (host) dan penyebab untuk meningkatkan daya tahan tubuh maupun untuk mengurangi resiko terhadap penyakit diare.
Perlindungan khusus (spesific protection) dalam mencegah terjadinya penyakit diare dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:
a. Perbaikan status gizi individu/perorangan ataupun masyarakat untuk membentuk daya tahan tubuh yang lebih baik dan dapat melawan agent penyakit yang akan masuk ke dalam tubuh, seperti mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat gizi yang lebih baik dan diperlukan tubuh.
b. Pemberian ASI eksklusif kepada bayi yang baru lahir, karena ASI banyak mengandung kalori, protein, dan vitamin, yang banyak dibutuhkan oleh tubuh, pencegahan ini bertujuan untuk membentuk sistem kekebalan tubuh bayi sehingga terlindung dari berbagai penyakit infeksi termasuk diare, dan menjaga pencernaan bayi dan balita yang belum tumbuh optimal.

3. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment)
Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment) merupakan pencegahan yang ditujukan bagi mereka yang menderita atau terancam akan menderita penyakit diare, dengan tujuan mencegah meluasnya penyakit/terjadinya wabah penyakit menular dan menghentikan proses penyakit lebih lanjut serta mencegah terjadinya komplikasi.
Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment) dalam mencegah terjadinya penyakit diare dapat dilakukan dengan berbagai upaya diantaranya:
a. Memeriksakan semua penderita segera secara dini dan aktif disarana pelayanan kesehatan guna memeriksa seseorang yang diduga telah menderita penyakit diare.
b. Melakukan penanganan segera penderita DIARE dan berikan segera pengobatan yang tepat dan sediakan fasilitas untuk penemuan dan pengobatan penderita agar tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain.
c. Sediakan fasilitas yang memadai seperti laboratorium agar dapat melakukan pemeriksaan terhadap penderita kontak, dan tersangka, guna mengetahui penyebab diare sehingga cara penanganannya tepat.

4. Pembatasan cacat (disability limitation)
Pembatasan cacat (disability limitation) merupakan pencegahan yang mencegah terjadinya kecacatan atau kematian akibat penyakit diare.
Penyakit diare jika tidak diobati secara baik, tepat dan tanggap akan dapat menyebabkan kematian. Pembatasan cacat (disability limitation) dalam mencegah terjadinya penyakit diare dapat dilakukan dengan berbagai upaya diantaranya:
a. Mencegah proses penyakit lebih lanjut dengan cara melakukan pengobatan secara berkesinambungan sehingga dapat tercapai proses pemulihan yang baik.
b. Melakukan perawatan khusus secara berkala guna memperoleh pemulihan kesehatan yang lebih baik.

5. Rehabilitasi (rehabilitation)
Rehabilitasi (rehabilitation) merupakan pencegahan yang bertujuan untuk berusaha mengembalikan fungsi fisik, psikologis dan sosial secara optimal.
Rehabilitasi (rehabilitation) dalam mencegah terjadinya penyakit diare dapat dilakukan dengan rehabilitasi fisik/medis apabila terdapat gangguan kesehatan fisik akibat penyakit diare.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahsan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Distribusi penyakit diare di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu berdasarkan variabel orang (kelompok umur) menunjukkan jumlah penderita diare terbesar adalah penderita pada kelompok umur produktif (20-44 tahun) pada tahun 2007, dan penderita pada kelompok umur balita (1-4 tahun) pada tahun 2008 dan 2009. Jumlah penderita terbesar kedua adalah kelompok umur balita (1-4 tahun) pada tahun 2007 dan kelompok umur produktif (20-44 tahun) pada tahun 2008 dan 2009. Distribusi penyakit diare di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu berdasarkan variabel tempat (kelurahan) menunjukkan Kelurahan dengan jumlah penderita Diare terbesar adalah Kelurahan Puuwatu pada tahun 2007, 2008 dan 2009. Kelurahan dengan jumlah penderita terendah adalah Kelurahan Abeli Dalam pada tahun 2007 dan Kelurahan Lalodati pada tahun 2008 dan 2009. Distribusi penyakit diare di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu berdasarkan variabel waktu (bulan) menunjukkan pergerakan grafik yang tidak fluktuatif dan cenderung menetap, dan tidak dipengaruhi musim, peningkatan tertinggi terjadi pada Bulan September tahun 2007 dan Oktober 2008.
2. Faktor resiko tingginya kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu, yaitu kondisi sanitasi lingkungan yang kurang baik, hygiene perseorangan yang kurang baik, sanitasi makanan yang kurang baik, masalah nutrisi dan imunitas tubuh, pemberian asi eksklusif yang rendah, pemberian makanan tambahan terlalu dini, stress yang berlebihan.
3. Untuk melakukan pencegahan penyakit diare dapat dilakukan dengan lima tingkat pencegahan penyakit (five level prevention), yakni promosi kesehatan (health promotion), perlindungan khusus (spesific protection), diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment), pembatasan kecacatan (disability limitation), dan rehabilitasi (rehabilitation).

B. Saran

Saran yang dapat penyusun sampaikan untuk menekan angka kejadian diare di wiayah kerja Puskesmas Puuwatu, sebagai berikut:
1. Melakukan upaya membentuk masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat, bukan hanya mau untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat tetapi juga mampu untuk menerapkannya, melalui upaya informasi dan komunikasi yang berkelanjutan dan berkesinambungan.
2. Perlu diadakan penelitan lebih lanjut dan spesifik, untuk mengetahui faktor-faktor penyebab tingginya angka kejadian Diare di Kelurahan puuwatu, khususnya yang berhubungan dengan adanya Tempat Pembuangan Sampah Akhir di wilayah tersebut.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: